SITUS CILEBUT YANG TELANTAR DAN MERANA – SITUS TUGU LONCENG

situs-tugu-lonceng

Cilebut …

Bagi penumpang commuter Bogor Jakarta pasti mengenal nama ini.
Perjalanan KA Jakarta Bogor pasti melalui stasiun Cilebut.

Cilebut memiliki sejarah yang panjang, sejak zaman penjajahan Belanda.
Disini pernah ada tangsi militer Belanda dan sekarang hanya tersisa seonggok bangunan.

Penasaran ..

Meskipun Cilebut ga jauh dari Jakarta, tapi saya belum pernah kesini.
Hayo siapa aja yang pernah kesini .. ? ngacung .. yang bukan tinggalnya di Cilebut ya ..
Sekalian ingin jalan jalan ke tempat yang belum pernah saya datangi, siapa tahu disana ada sesuatu …

Ketika berangkat … awan hitam berada di arah tujuan … mudah2-an ga hujan. Sampai di Jatiwaringin .. gerimis tipis turun, tapi awan hitam sudah mulai berpendar tertiup angin, makin yakin tidak akan turun hujan. Perjalanan melalui pondok gede, kramat jati, masuk area cijantung, muncul di kelapa dua depok, lalu jalan margonda raya, terus ikutin sampai melewati stasiun KA Citayam, KA Bojong gede dan KA Cilebut, itu adalah arah jalan yang akan saya lalui.

Ketika melalui area Cijantung, baru kali ini saya masuk area komplek militer Cijantung. Selama ini saya pikir hanya area Kopassus. Ternyata di area yang luas ini tidak hanya markas Kopassus, tapi ada beberapa batalyon tentara lainnya, ada Kostrad, Raider .. ada apa lagi ya… ada perumahan Paspampres juga.

lonceng

taman

taman rusa tutul di area Cijantung

Area komplek Cijantung ini adem, banyak pohon2nya… seharusnya Jakarta semuanya seperti ini ya pasti bikin adem warga Jakarta. Ternyata ada area rusa tutul disini, lumayan hiburan bagi warga untuk melihat dan memberi makan rusa2.

Memasuki jalanan Margonda raya yang lebar di minggu pagi ini cukup lengang, lama lama jalanan menyempit hanya cukup 2 mobil saja. Sepanjang perjalanan sudah padat oleh perumahan dan komplek2 perumahan. Setiap melewati stasiun KA jalanan padat sama angkot2 yang ngetem dan menutup jalan, melewati pasar … sudah pasti semrawut dan padat, butuh kesabaran.

sarapan

sarapan di daerah Citayam, di warung yang unik ini

lapangan

lapangan di sebelah situs tugu lonceng

Dan antre lagi ketika akan memasuki stasiun KA Cilebut … wah sudah dekat tujuan, dan saya belok kanan di depan stasiun. Sepanjang kanan kiri kanan jalan adalah toko2 dan pedagang kaki lima. Seratusan meter dari stasiun saya lihat ada plang arah Situs Tugu Lonceng … Situs ini berada di pinggir jalan, tapi di depannya tertutupi bangunan2 lapak pedagang kaki lima. Check di odometer … lumayan juga jarak dari rumah untuk sampai sini … 47,7 km.

Merana sekali melihatnya … reruntuhan pilar yang dikelilingi rumput2 yang tinggi. Areal ini sepertinya akan menjadi perumahan tapi tidak jadi.

Terlantar dan merana.

tugu

tugu2

Mungkin karena ketidakadaan anggaran akhirnya di biarkan begini saja.
Berdasarkan cerita, dahulu di areal ini adalah tangsi militer Belanda, dan di reruntuhan bangunan ini adalah tugu tempat lonceng yang akan dibunyikan untuk penanda kegitan2.

lonceng-1

Bangunan tangsi militernya yang besar sudah tidak ada bekasnya sama sekali … hanya tinggal reruntuhan pilar2 ini, loncengnya sudah tidak tahu kemana menghilang … Informasi mengenai Tugu Lonceng ini sangat minim, tidak ada penjelasan yang lengkap dan jika sampai tugu lonceng ini hancur dan tidak berbekas … sayang sekali. Orang akan semakin lupa keberadaan sejarah daerah ini.

Tidak ada apa2 lagi yang dilihat … Jam 10-an lebih saya berangkat pulang. Dari Cilebut sampai Depok dan bahkan sampai rumah jalanan sudah padat. Jika berangkat pakai mobil dari Cilebut sampai Margonda bahkan sampai rumah, saya jamin … sepeda akan lebih cepat sampai. Banyak sekali titik macetnya dan panjang panjang, apalagi antara Cilebut sampai Margonda. Yang paling benar memang naik Kereta Api … lebih cepat sampai dan ga capai tenaga, ga capai pikiran dan ga capai hati di perjalanan.

Jadi kalau mau ke Cilebut, ga bisa ngebut deh … mending naik KA aja.

Lokasi Situs Tugu Lonceng
Jl Pendidikan, Kampung Cilebut, Desa Cilebut Barat, Kecamatan Bojonggede, Kabupaten Bogor
Koordinat Google Maps -6.530876, 106.797476

sumber : bersapedahan.wordpress.com

 

Iklan

Nantikan di bulan Februari 2017…..

coming-soon-1

DAGANG

oleh : Ust. Salim A. Fillah

Hakikat perniagaan di negeri ini sering saya gambarkan dalam cerita tentang seorang pengusaha kecil yang memiliki produk, katakanlah keripik ubi. Untuk dapat masuk ke sebuah supermarket besar, produk ini harus melewati sekian uji-saring ketat, dari kualitas hingga kemasan. Dan akhirnya iapun diterima, terpampang agak tersembunyi di salah satu sudut raknya.

Tapi sistem pembayaran keripik ubi itu adalah konsinyasi; tiga bulan dipajang baru dihitung berapa yang laku. Laporan bisa diambil sekaligus sisa barang. Lalu pembayaran tunai baru akan diterima secepat-cepatnya sebulan kemudian.

Total empat bulan.

Tapi kalau si pemilik usaha amat kecil ubi ini pada saat menyetorkan dagangannya hendak beli beras atau gula di supermarket itu, bisakah ia minta dihitung nanti dari hasil dagangannya? Tidak. Dia harus membayar tunai. Saat itu juga.

Inilah tata ekonomi, di mana orang miskin membiayai orang kaya. Pemilik usaha kecil itulah yang menopang bisnis para pemodal besar supermarket.

Maka kita selalu bahagia pergi ke pasar tradisional, karena kita akan menemukan nilai-nilai yang amat mahal. Saking mahalnya, 500 orang terkaya di dunia versi Forbes bersekutupun takkan sanggup membelinya.

Tempo hari, terlihat di Pasar Prawirotaman Yogyakarta, seorang ibu penjual bawang merah dan putih yang asyik mengupasi sebagian dagangan yang sudah keriput kulitnya. Tak banyak yang disandingnya, hanya setampah kecil sahaja.

Lalu seorang lelaki yang lebih muda, sambil tersenyum ke sana kemari menjajakan pisang satu lirang saja, yang dilihat keadaannya memang hanya akan bagus kalau dimakan hari ini segera. Besok tidak.

Dan tetap asyik dengan pisaunya, sang ibu mendongak, lalu berkata dengan tawa ringan yang memamerkan giginya, “Tolong pisangnya gantungkan di cantelan motorku itu ya Dik, ini uangnya ambil ke sini.”

“Ya Mbak, lima ribu saja buat Njenengan.”

Maka ketika si Mas usai menaruh pisang itu, sang ibu menyumpalkan tiga uang lima ribuan ke tas plastik si Mas yang berisi jajanan ketika dia mendekat.

Semula lelaki itu tak menyadarinya, tapi setelah berjalan beberapa langkah dia kembali. “Weh, kebanyakan Mbak”, katanya.

“Tidak apa-apa, buat jajan anakmu lho Dik. Lagipula pisang segini banyak ya ndak mungkin 5000 to.”

“Ndak. Memang segitu harganya Mbak. Jajannya juga sudah ada kok ini.” Lalu uang itu dikembalikannya. Tak mau kalah, Si Ibu segera menyusul Si Mas yang berlari. Memasukkan lagi uang lebihan 10.000 itu ke tas plastiknya. Si Mas tersenyum geleng-geleng kepala. Lalu dengan penuh kesopanan, dia pamit pergi.

Siang hari ketika si Ibu hendak pulang, seorang pedagang bakso menghampirinya. “Ini mbak, baksonya.”

“Lho saya tidak pesan itu?”

“Lha tadi Mase penjual pisang yang memesankan itu. Terus dia bilang diracik sama ngasihkannya nanti saja kalau Njenengan mau pulang.”

“O Allah… Rejeki. Sembah nuwun Gustiiii…”

Adakah engkau temukan di tempat belanjamu orang saling berrebut untuk membahagiakan sesamanya seperti ini? Ah, mungkin sesekali kau perlu pergi ke pasar yang kaulihat becek dan sumpek itu. Sebab di sana ada yang tak dapat kaubeli dengan harta, tapi dapat kaurasakan mengaliri hatimu dengan sejuta haru dan makna.

Info properti 100jutaan-775 juta :
Kalwati
Telp/WA. 0882 1647 2338

 

TOILET DI DESIGN TERTUTUP, AMANKAH ?

Kasus penyekapan 11 orang di dalam sebuah toilet pada rumah di Pulomas, Jakarta Timur, menyisakan duka bagi para keluarga korban.

Sebanyak 6 orang meninggal dunia karena kehabisan napas dan 5 orang ditemukan lemas setelah disekap berjam-jam di dalam ruangan berukuran 1,5 meter x 1,5 meter.

Mereka kehabisan napas mengingat ruang tersebut sangat kecil dan tidak terdapat lubang udara sedikit pun, kecuali exhaust fan. Celah di bawah pintu juga tidak seberapa besar.

Di sisi lain, fungsi jendela ataupun ventilasi adalah agar udara dapat mengalir dari dalam ke luar maupun sebaliknya.

Ada-tidaknya jendela atau ventilasi ini ditentukan oleh arsitek atau pemilik rumah yang menyewa jasanya.

“Arsitek itu dalam Undang-undang harus menjamin keselamatan orang dalam bangunan,” ujar Ketua Ikatan Arsitek Indonesia Ahmad Djuhara kepada kompas.

Setiap arsitek, kata Djuhara, bisa mendesain ruangan dengan bermacam-macam gaya. Ada yang mendesain ruangan yang tidak berhubungan dengan dinding luar.

Ada pula arsitek yang mendesain ruangan tersebut dengan rekayasa, yaitu saat lampu menyala exhaust fan ikut menyala kemudian udara dari dalam akan keluar.

Namun di sisi lain, cara ini tidak membuat udara masuk dari luar ke dalam.

“Kamar mandi itu kan bau dan oksigen itu sebetulnya datang dari luar masuk ke dalam,” kata Djuhara.

Menurut dia, desain rumah dengan toilet yang tertutup ini cukup unik. Djuhara menduga, baik arsitek maupun pemilik menganggap toilet tertutup sebagai powder room sehingga tidak menambahkan ventilasi atau jendela.

Dengan kata lain, jika ruangan tersebut dipakai dalam waktu singkat yakni 5 menit-1 jam, mungkin pengguna ruangan tidak akan kehabisan napas.

“Kalau untuk satu orang saja, oksigen yang ada masih cukup. Tapi, ketika dipakai secara tidak wajar, seperti dipakai 11 orang, ngga akan cukup suplai oksigennya,” sebut Djuhara.

Terlebih lagi, tambah dia, jika lampu di dalam toilet tidak menyala. Akibatnya, exhaust fan juga tidak bekerja menyerap udara dari dalam ke luar.

Dalam pelajaran dasar arsitektur, lanjut Djuhara, untuk mendesain bangunan di tanah tropis, arsitek akan dianjurkan memikirkan ventilasi silang supaya udara mengalir.

Pada bangunan hijau juga disebutkan ukurannya untuk udara mengalir adalah 1 meter per detik.

“Biasanya dia (arsitek) akan buat lubang di sini dan lubang di sana yang posisinya berhadapan,” kata Djuhara.

sumber : kompasdotcom

Berikut ini adalah contoh design interior toilet yang dibuatkan oleh Algira untuk konsumen rumah Algira River View di Cilebut Bogor, dapat terlihat bahwa ruangan toilet mendapatkan banyak sinar matahari dari luar, cukup terang tampak segar :

arv-9

Sahabat Properti Anda,
Kalwati
Telp/WA. 0882 1647 2338

Keuntungan Tinggal di Bogor

Ini Dia 6 Keuntungan Tinggal Di Bogor

Tinggal di wilayah Bogor menjadi alternatif baru terutama bagi masyarakat yang aktif bekerja di Jakarta. Apa aja keuntungan itu?

1. Udara masih segar dekat dengan Gunung Salak dan Gunung Gede, terutama udara pagi dan malam.

2. Harga-harga makanan lebih murah dibanding daerah lain di Jabodetabek karena masih banyak pasar tradisional.

3. Banyak pusat kuliner, seperi sepanjang jalan Pajajaran, Taman Kencana, Jalan Surya Kencana, Air Mancur Ahmad Yani, Indra Prasta

4. Banyak tempat wisata yang mudah untuk dikunjungi, seperti Kebun Raya Bogor, Istana Bogor, Museum Etnobotani, Museum Pembela Tanah Air, Situ Gede Dramaga, Warso Farm, Kampung Budaya Sindang Barang, Prasasti Batutulis, Jungle Water Adventures, The Highland Park Resort, Taman Safari, Taman Wisata Matahari, Agro Gunung Mas, Taman Riung Gunung, Gunung Pancar, Air Terjun Bidadari, Taman Budaya Sentul, Air Panas Ciparay.

5. Mudah menjangkau pusat pemerintahan Jakarta, bisa menggunakan KRL, melalui Tol Jagorawi atau Raya Bogor.

6. Dekat dengan sumber air sehingga air masih segar.

Bagi yang sedang mencari tempat tinggal baru atau ingin berinvestasi jangka panjang, ada baiknya anda mencoba menengok rumah Algira Properti di Bogor. Harga mulai 100 jutaan sampai 775 juta, tersedia rumah 1 lantai dan 2 lantai. Info lebih lanjut hubungi :

Sahabat Properti Anda,
Kalwati
Telp/WA. 0882 1647 2338